Senin, 28 Januari 2019 20:51

Agung Prayoga Raih Juara 1 Biopoint

Agung Prayoga kembali mencantumkan namanya dalam deretan berita popular mahasiswa setelah menjuarai lomba Maphathon kategori Biopoint yang diselenggarakan oleh Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian jurusan Geodesi, Institut Teknologi Bandung. Biopoint sendiri merupakan salah kategori perlombaan dimana peserta diwajibkan menemukan lokasi baru di sebuah aplikasi bernama Here, semakin banyak  lokasi baru yang ditemukan dalam aplikasi tersebut maka akan semakin banyak pula  poin yang didapat. Perlombaan yang dilaksanakan selama 10 hari terhitung sejak tanggal 07 hingga 17 Januari 2019 itu sukses dijuarai oleh mahasiswa STT Terpadu Nurul Fikri bernama lengkap Agung Prayoga. Lomba yang diikuti oleh mayoritas mahasiswa ITB itu tidak menghalangi langkah Agung untuk tetap mengikuti dan berusaha memberikan yang terbaik. “Alhamdulilah seneng yah, soalnya perjuangannya juga lumayan besar buat lomba ini” Ujar Agung. Untuk menjadi pemenang dan mengalahkan peserta lain yang mayoritas adalah tuan rumah tentu bukan hal yang mudah. Pengorbanan yang dilakukan pun pastinya harus besar dan tak biasa “Aku sampai nggak tidur beberapa hari demi mendapatkan poin yang besar” Lanjut Agung.

 

Menjadi sebuah kesan tersendiri bagi Agung dapat bersaing dengan peserta lain yang mayoritas berasal dari kampus terkemuka. “Aku belajar bahwa untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan itu memang nggak mudah yah, harus berusaha semaksimal mungkin untuk mendapatkan hasil yang maksimal juga” Kesan Agung. Agung juga berpesan kepada mahasiswa yang lain bahwa semua orang mempunyai potensi masing-masing serta memiliki kesempatan masing-masing pula untuk menjadi pemenang di bidang yang digeluti.Kalau kita menginginkan sesuatu, disana kita harus berusaha dan berdo’a semaksimal mungkin untuk mendapatkannya, karena usaha itu tidak akan menghianati hasil”. Untuk meraih apa yang diinginkan tentu harus ada pengorbanan, dan pengorbanan yang dilakukan itulah yang akan menjadi bukti keberhasilan kita di masa yang akan datang. Agung mahasiswa tingkat akhir STT Terpadu Nurul Fikri yang tengah sibuk mengurus berbagai hal saja masih dapat menyabet gelar sebagai juara pertama, jadi bukan hal yang tak mungkin bagi mahasiswa lainnya dapat lebih hebat dari Agung asalkan ada kemauan keras, usaha dan tentu doa. Semangat!

Published in Pojok Mahasiswa

Kembali terdapat pembicaraan hangat di kampus STT Terpadu Nurul Fikri setelah salah satu mahasiswanya mendapat juara tiga pada perlombaan desain logo KSB (Kampung Siaga Bencana) yang diselenggarakan oleh Kementrian Sosial Republik Indonesia pada tanggal 7 Desember 2018 lalu. Ya, siapa lagi kalau bukan Ibrahim Syafiq Musyaffa. Mahasiswa yang memiliki kemampuan desain grafis ini memang rajin mencantumkan namanya dalam deretan juara pada hampir setiap perlombaan desain yang diikuti.

Acara yang diikutinya baru-baru ini sedikit berbeda dengan perlombaan yang biasa ia ikuti, karena selain penyelenggaranya adalah lembaga kepemerintahan, pesertanya pun sangat banyak karena berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Perasaan bangga tentu melekat pada diri mahasiswa yang akrab dipanggil Syafiq ini, meskipun tidak meraih posisi sebagai juara pertama tetapi sudah lebih dari hebat bisa menduduki posisi sebagai juara tiga  dari sekian banyaknya peserta dari seluruh wilayah di nusantara.

Selain mendapat penghargaan, Syafiq juga mendapat hadiah berupa tabungan berjumlah jutaan Rupiah. Dilansir dari Suara.com yang menyatakan bahwa finalis lomba desain logo dan cipta mars KSB akan menerima hadiah masing-masing sebesar Rp. 5.000.000 (Lima juta rupiah). ”Selain penghargaan dan uang, hal yang paling penting adalah pengalaman. Bukan uangnya sih yang paling berarti, tapi pengalamannya” ungkap Syafiq. Menjadi yang terbaik memang harapan semua orang dan tentu hal itu tidak semata–mata didapat dengan percuma, harus menghadapi berbagai tantangan dalam prosesnya. Begitu pula dengan Syafiq, berbekal pengalamannya selama ini dan bermodalkan kemampuan, ia bisa menjadi finalis sekaligus juara dalam acara tersebut. “Rajin-rajinlah belajar dari pengalaman”, Ibrahim Syafiq.

Published in Pojok Mahasiswa

Siapa sangka wanita berbadan mungil, berwajah bulat dan memiliki senyum kecil yang lembut ini adalah sosok yang sangat berjuang keras untuk meraih mimpi. Pantang menyerah, mungkin itulah kata yang dapat menggambarkan dirinya. Memiliki rutinitas bangun pagi, sarapan, sholat subuh, tadarus, dan kuliah menjadikan kebiasaan tersebut terlihat biasa-biasa saja di mata kebanyakan orang. Namun ternyata ada hal yang tidak disangka dari wanita yang akrab dipanggil Lia ini, pasalnya ia merupakan seorang Public Speaker yang cukup handal dalam bidang yang tengah digelutinya tersebut.

Menulis menjadi hobi yang sangat digemari Lia dan dari hobi inilah ia mengasah kemampuannya dalam hal tulis-menulis. Lia merupakan sosok yang unik karena mencintai  berbagai perbedaan dan tantangan, disiplin, percaya diri, serta memiliki komitmen tinggi. Sisi kepribadian itulah yang mengantarkan dirinya menjadi public speaker yang adaptable dengan berbagai acara yang dibawakannya mulai dari acara semi formal seperti seminar dan talkshow hingga informal seperti acara musik beraliran rock dapat ia bawakan dengan baik. Sebagai seorang public speaker, menurutnya hal yang paling berkesan dan membahagiakan adalah ketika dirinya dapat menyelesaikan tugas dengan baik, yaitu membawakan acara dengan penuh penjiwaan serta membuat audiens bahagia menikmati setiap kata yang ia ucapkan ketika beraada diatas panggung.

Di sisi lain, sebagai seorang public speaker yang terkesan begitu riang, ternyata Lia memiliki cita-cita yang tak disangka yaitu menjadi staff di KPK atau Komisi Pemberantasan Korupsi. Karena menurutnya, menjadi agen anti korupsi adalah cita-cita yang harus ia raih untuk menyelamatkan Indonesia dari tikus-tikus berdasi yang kian merajalela di negeri merah putih ini. Dari cita-citanya tersebut, ternyata Lia bukan saja sosok yang unik namun juga sosok yang beragam. Pasalnya Lia merupakan lulusan sebuah SMK jurusan Farmasi, kemudian melanjutkan kuliah dengan jurusan IT, berprofesi sebagai public speaker, dan bercita-cita sebagai seorang anti koruptor di bawah naungan lembaga bernama KPK. Co-Founder dari #kelasberani ini memang memiliki perencanaan yang matang sejak dini dan terus berusaha mewujudkan keinginannya dengan segala kemampuan yang dimiliki saat ini.

Prestasi yang diraih Lia ternyata cukup banyak. Saat SMK, ia lulus dengan nilai terbaik di jurusannya dan meraih gelar sebagai juara umum. Ia pun pernah menyabet gelar sebagai juara 2 olimpiade farmasi tingkat kabupaten saat menduduki bangku SMK. Menurutnya momen tersebut cukup berkesan dan memberikan rasa tersendiri ketika mengenangnya. Saat itu, ia bersama tiga teman lainnya membuat Body scrub dari kulit pisang, sebuah produk kecantikan alami yang belum pernah ada sebelumnya. Tak hanya itu, Mahasiswa peraih IP 4 ini juga pernah mendapat penghargaan sebagai karyawan tauladan dari sebuah klinik tempat bekerjanya dahulu dengan posisi sebagai ketua Instalasi Farmasi.

Jika mengulik Lia, ternyata ia memiliki sisi-sisi yang tak biasa. Lia juga ternyata memiliki cukup banyak pengalaman di bidang politik. Ia pernah menjadi Panwaslu Pilkada Jabar beberapa bulan silam dan berencana untuk menjadi Panwas Pilpres 2019 mendatang, kemudian ia pun pernah menjadi duta sebuah proyek yang dicanangkan oleh OJK (Otoritas Jasa Keuangan Indonesia) bersama ADB (Asian Development Bank) terkait keuangan inklusif di Indonesia, serta pernah menjabat sebagai panitia sensus penduduk Kabupaten Bogor. Lia, yang juga memiliki keinginan untuk menjadi presenter ini memiliki rencana untuk bergabung bersama para jurnalis senior di Indonesia melalui wadah bernama depoknews.com dan depokbersahabat.id dengan memberikan kontribusi berupa tulisan dan mengikuti berbagai pelatihan jurnalistik untuk mengasah  kemampuannya dalam menulis dan public speaking. Akhir kisah tentang Lia, ternyata ia tak ingin bisa dan berhasil sendirian. Ia tak  hentinya menggembor-gemborkan mahasiswa STT-NF untuk ikut serta belajar berbicara melalui #kelasberani yang ia inisiasikan bersama salah satu dosen STT-NF. Dan Lia juga berpesan kepada teman-teman mahasiswa lainnya untuk selalu merasa lapar dan haus akan ilmu, walaupun mungkin ilmu tersebut belum kita ketahui dan kita rasakan manfaatnya saat ini. Karena siapa tahu dari ilmu-ilmu yang dipelajari saat ini justru menjadi peluang kesuksesan kita di masa depan.

Published in Kisah dan Curhat
Minggu, 23 Desember 2018 06:11

Jawara Silat Bercita-cita Menjadi Polwan

Dosen STT Nurul Fikri, Sapto Waluyo, menyambut baik prestasi yang diraih Widi Annissah, mahasiswa STT NF program studi Sistem Informasi angkatan 2018 sebagai juara pertama dalam kompetisi pencak silat Sinar Warna Nusantara Championships. “Saya tidak menyangka Widi akan meraih prestasi puncak karena baru semester awal, sementara lawan tandingnya adalah mahasiswa yang lebih senior dari kampus lain,” ujar Sapto yang juga dikenal sebagai pembina jurnalistik kampus. Kompetisi digelar di Gelangggang Olahraga Ciracas, Jakarta (20/12/2018).
 
Widi yang biasa dipanggil Icha mengungkapkan rahasia kemenangannya. “Saya menggunakan jurus andalan tendangan sabit kiri, tendangan kanan dan sapuan berbalik (circle).” Persiapan total dilakukannya sebelum bertarung di babak penyisihan, semi final hingga final. Tidak hanya latihan teknik dan fisik secara intensif, melainkan juga harus menurunkan berat badan. H-3 jelang pertandingan ia harus menurunkan berat badan 2 kilogram dengan jogging, memakai pakaian berlapis dan jaket sauna. “Alhamdulilah, berat turun dari 50,8 kilo menjadi 48,6 dalam waktu tiga hari, sesuai ketentuan pertandingan.”
 
Perjalanan hidup gadis kelahiran Jakarta, 18 Maret 2000 itu juga penuh dinamika. Di usia kanak-kanak dan remaja, ia harus tinggal berpindah-pindah. Mulai RA TK Nurul Jalal di Jakarta Utara, SDN Warakas 01/02 Pagi/Petang Jakarta Utara, hingga menamatkan sekolah di SD Setia Asih 02/06, Bekasi. Karena keluarganya harus mencari nafkah di sekitar Jakarta dan Bekasi. Sekolah menengah diselesaikan di SMP Negeri 269 Jakarta Pusat dan SMK Muhammadiyah 11 Jakarta.
 
Sekarang Icha tinggal asrama putri STT NF karena mendapat beasiswa prestasi. Ia memiliki dua orang saudara kandung. “Insya Allah, saya bercita-cita menjadi Polwan (Polisi Wanita) karena terlihat keren dan bisa menolong orang lain,” tutur Icha.
 
Perkenalannya dengan dunia silat dimulai sekitar 2015, karena melihat atraksi kakak-kakak kelas saat demo ekstra kurikuler di SMK. Pelatihnya di perguruan seni beladiri Tapak Suci Putera Muhammadiyah adalah: Muflih Thufali, Retno Wulandari, dan Masruri. Ia memilih Tapak Suci karena satu-satunya perguruan silat di Indonesia yang mewajibkan peserta puteri berjilbab dan metoda pelatihan sangat islami. “Dari awal pembukaan hingga penutupan menggunakan doa-doa islami. Pembukaannya adalah mengucap dua kalimat syahadat serta doa memohon diberikan ilmu. Sedang penutupnya adalah doa syukur kepada Allah Ta’ala,” jelas Icha.
 
Selama ini Icha telah mengikuti berbagai kejuaraan, seperti Jakarta Championship 4, Jayabaya Open, Pekan Olahraga Remaja Kota (PORKOT), Pekan Olahraga Pelajar Kota (POPKOT), JakPus Championship, Olahraga Olimpiade Siswa Nasional (O2SN) tingkat Jakarta Pusat, tingkat Provinsi DKI Jakarta, Polimedia Cup, dan Sinar Warna Nusantara. “Alhamdulillah, saya pernah berprestasi sebagai Juara 3 JKTC4, Juara 3 JPC, Juara 1 PORKOT, Juara 1 O2SN Tingkat Walikota Jakpus,dan Juara 1 O2SN Tingkat Provinsi DKI Jakarta,” Icha bercerita.
 
Ia merasa bahagia, tatkala berdiri di podium menerima medali, sambil menyanyikan lagu Indonesia Raya. Itu kebahagiaan yang tidak bisa dilukiskan. Itu adalah kenikmatan setelah merasakan sakitnya proses latihan. Rencana tanding ke depan, ia ingin mengikuti kejuaraan yang bergengsi seperti kejuaraan nasional atau internasional Singapura Open. Ia selalu berdoa dan diiringi latihan penuh disiplin.
 
Icha sangat bersyukur karena mendapat beastudi STT NF dari jalur prestasi. Hobi dan bakatnya akan terus tersalurkan lewat pertandingan-pertandingan, namun kuliah juga tak dilupakan. Ia merasakan semua itu sebagai anugerah, bukan beban. Justru bersyukur karena tidak semua mahasiswa atau kaum muda mendapatkan kesempatan sebagaimana dirinya. Jadwal latihannya cukup ketat : Senin, Rabu, dan Ahad. Selain itu, dia juga harus mengatur waktu belajar dan bersosialisasi dengan lingkungan.
 
“Saudari Icha adalah sosok yang berdisiplin dan berprestasi sesuai dengan spirit STT NF sebagai kampus pembentuk karakter NICE (Novelty, Integrity, Caring and Empathy),” jelas Sapto Waluyo. []
Published in Kegiatan Kampus

Kisah kali ini datang dari Muhammad Syaiful Ramadhanakrab disapa Ipul, salah satu mahasiswa aktif Sekolah Tinggi Teknologi Terpadu Nurul Fikri (STT-NF). Laki-laki berdarah Jawa ini memang memliki semangat yang luar biasa. “Badan boleh kecil, kampus boleh kecil tapi pemikiran harus besar” itulah yang dikatakan oleh mahasiswa yang berhasil mendapatkan gelar Mapres Utama tahun 2017 ini. Terdaftar sebagai mahasiswa STT-NF sejak tahun 2015 sekaligus penerima beasiswa Beastudi Nusantara bersama dengan 20 teman lainnya menjadikan sosoknya cukup menarik perhatian.

Banyak pengalaman telah didapatnya dari STT-NF sejak semester 1 hingga kini tengah menginjak semester 7. Mahasiswa yang memiliki target lulus 3.5 tahun ini memiliki pengalaman hebatnya tersendiri selama berkuliah di STT-NF diantaranya yaitu menjadi langganan AsistenDosen (Asdos) pada semester 3 untuk mata kuliah DDP, POSA dan Pemprograman Web saat semester 5 serta Metpen saat menginjak semester 7. Tentu tidak hanya sampai disitu saja, masih banyak prestasi yang berhasil didapatkan Ipul, salah satunya sukses menjadi ketua pelaksana Kafillah—salah satu acara besar yang diadakan LDK Senada—pada tahun 2016 silam.

 

Published in Kisah dan Curhat

Sumatera Barat, salah satu provinsi di Indonesia rupanya bukan saja menyimpan banyak keindahan alam namun juga memiliki putra-putri bangsa dengan potensi yang luar biasa, Muhammad Fadhil Hilmi salah satunya. Laki-laki yang berasal dari desa Pariangan, Sumatera Barat—salah satu desa yang indah karena lokasinya di lereng gunung berapi—ini memang memiliki kisah yang cukup unik untuk diulik.

Muhammad Fadhil Hilmi dibesarkan dan mengenyam pendidikan selama 9 tahun di ibu kota Jakarta. Hilmi—begitu sapaan akrabnya—menikmati bangku sekolah di Jakarta hingga jenjang SMP. Setelah lulus dari Sekolah Menengah Pertama lalu ia melanjutkan pendidikan SMAnya di daerah asal, Sumatera Barat. Saat menempuh jenjang SMP dirinya mengaku tak pernah semangat belajar serta enggan bersosialisasi dengan teman sebaya. Kondisi yang berbanding terbalik ketika dirinya memasuki bangku SMA. Merasa paling keren, gaul serta paling unggul dan paling pintar sebagai ‘anak Jakarta’ membuatnya angkuh. Yang lama-kelamaan membuat lelaki yang kini berusia 21 tahun ini tak nyaman karena terus berprilaku yang bertentangan dengan naluri hati kecilnya sebagai makhluk sosial. Hingga akhirnya ia menyesali perbuatannya tersebut dan tak ingin lagi meremehkan orang lain.

Berawal dari bantuan saudaranya, Hilmi bertekad menjadi pribadi yang lebih baik. Berjanji untuk mempersembahkan usaha terbaik di setiap langkah, mulai bersosialisasi dengan lingkungan sekitar, serta tidak akan pernah menyerah. Mengantarkannya meraih posisi sebagai salah satu siswa yang mendapat peringkat 10 besar. Tak hanya itu, Hilmi pun berhasil meraih penghargaan sebagai juara dua lomba Blogging Cybercity. Tentu ini merupakan prestasi yang cukup membanggakan dan bukan hal yang didapat dengan percuma, namun dengan perjuangan yang luar biasa. Bertransportasikan sepeda ontel dan belajar komputer hingga pukul 11 malam rela dilakukan demi menempati janji memberikan yang terbaik termasuk di moment sebagai peserta lomba Blogging Cybercity ini.

Merasa terombang-ambing untuk mengambil langkah setelah menyeselesaikan pendidikan SMA, membuatnya terus meminta pada Allah untuk ditunjukan jalan terbaik yang harus ditempuh. Hingga akhirnya ia mendapatkan pertolongan tersebut yang lagi-lagi melalui saudaranya sebagai perantara. Mencoba mengikuti tes masuk Perguruan Tinggi Negeri SNMPTN dan SBMPTN menjadi pilihannya di tahun pertama setelah lulus SMA. Namun sayangnya ternyata keberuntungan belum memihak pada Hilmi. Sosoknya yang berpegang teguh pada prinsip “Proses tidak akan pernah mengkhianati hasil” membuatnya mencoba mengikuti tes kembali di tahun berikutnya yang tentunya juga dengan usaha dan doa yang lebih besar. Tapi kembali disayangkan, ternyata Dewi Fortuna belum juga memihak. Keadaan tersebut tak membuatnya menyerah, tekadnya untuk melanjutkan pendidikan tetap membara.

Berawal dari sebuah seminar yang diadakan STT-NF dengan menghadirkan pembicara hebat yang kemudian mengantarkannya seperti saat ini, menjadi titik balik atas segala harapan dan mimpi yang harus diraih. Tidak pantang menyerah dan fokus dengan tujuan adalah kata yang pantas untuk menggambarkan sosoknya yang terus berusaha untuk melampui kemampuan yang dimilikinya. Aktif di organisasi BEM sebagai Menteri Pendidikan dan keilmuan (P & K), menjadi Project Officer pada kegiatan incubator PKM, mendapatkan gelar Mahasiswa Berprestasi di STT-NF dan menjadi asisten dosen Database selama dua tahun menjadikan pemuda Pariangan ini memiliki nilai diri yang tidak dimiliki oleh orang lain. “Kampus boleh kecil tapi pikiran harus seluas dunia” itulah pesan yang diberikan Hilmi kepada rekan mahasiswa STT-NF seperjuangan terutama untuk dirinya sendiri agar tetap menjadi pribadi yang beryukur dan pantang menyerah dengan keadaan.

Published in Kisah dan Curhat

Sorak sorai kegembiraan terjadi di kalangan mahasiswa STT Terpadu Nurul Fikri, pasalnya dua teman seperjuangannya berhasil menoreh prestasi dalam perlombaan Analisis Sistem Infomasi (ANSI) di Universitas Budi Luhur. Penghargaan sebagai juara satu lomba yang dilaksanakan pada hari Rabu, 21 November 2018 silam itu sukses diboyong oleh dua mahasiswi STT-NF. Adalah  Rizka Amalia Apriliani dan Laila Nafila (mahasiswi SI 2016) yang menjadi satu-satunya peserta dari luar kampus Budi Luhur yang ikut serta dalam perlombaan yang dikhususkan untuk mahasiswa IT tersebut.

Tentu menjadi sebuah kebanggaan tersendiri bagi dua sekawan ini bersaing dengan peserta lain yang berasal dari dalam kampus Budi Luhur sekaligus membawa pulang penghargaan sebagai juara perlombaan. “Seneng banget Alhamdulillah bisa juara satu. Awalnya gak nyangka banget sih” ujar Rizka. “Bukan cuma juara yah, tapi juga pengalaman. Dapet juara penting banget tapi juga pengalaman tidak kalah pentingnya” tambahnya sebagai ungkapan syukur.

Mahasiswi yang akrab disapa Inces (Rizka) dan Laila ini memang dikenal aktif mengikuti kegiatan extra-kampus, hal ini terbukti dengan beberapa kali mengikuti perlombaan yang diselenggarakan oleh pihak eksternal NF seperti MTQN yang dilaksanakan di ITS dan masuk sebagai finalis tahun lalu. Sudah bukan menjadi hal yang aneh bagi mereka mengikuti acara-acara luar bahkan mereka dengan santai ikut serta dalam acara-acara tersebut. “kalo tegang sih enggak yah, karena udah biasa ikut perlombaan seperti ini, malah kita enjoy aja” ungkap Rizka saat pers.

Namun begitu, kendati berbekal kemampuan dan pengalaman yang mumpuni, kedua mahasiswi ini tetap mengalami kesulitan dalam mengikuti perlombaan ini terutama pada saat penyusunan laporan. “Sempet kesulitan juga saat nyusun laporan karena bentrok dengan acara LDMKM (Latihan Dasar Manajemen dan Kepemimpinan Mahasiswa) selama 3 hari, dari hari jum’at sampai hari minggu padahal hari seninnya deadline ngumpulin laporan. Kebetulan jadi panitia juga” ujar Rizka. Meskipun mengalami kesulitan namun tidak menyurutkan semangat keduanya untuk tetap berjuang. Mereka juga berpesan kepada mahasiswa lainnya supaya lebih giat lagi mencari peluang melalui perlombaan di luar kampus. “Jangan banyak mikir, coba aja dulu, hasil mah belakangan” ujar Rizka. Tentunya hal ini menjadi motivasi bagi mereka secara pribadi dan juga mahasiswa lainnya untuk lebih bersemangat mengikuti pelombaan di dalam ataupun luar kampus.

Published in Pojok Mahasiswa

Tak terasa Ujian Akhir Semester (UAS) tinggal beberapa hari lagi. Bagi sebagian mahasiswa, UAS merupakan mimpi buruk, bahkan ada yang sampai stress menghadapi UAS. Tapi tidak untuk mahasiswa STT Terpadu Nurul Fikri kelas TI-02 2017. Semester ganjil lalu tercatat kelas TI-02 2017 paling banyak mendapat gelar mahasiswa berprestasi daripada kelas yang lain diangkatan 2017.

Bukan berarti mahasiswa TI 02 ini berlatar belakang siswa berprestasi di sekolahnya dulu, bahkan ada mahasiswa yang waktu sekolahnya dulu tidak pernah masuk 10 besar ranking kelas tetapi menjadi mahasiswa berprestasi di kampus. Kuncinya adalah Think Win – Win atau berpikir menang – menang. Bukan hanya pada saat belajar dikelas atau saat mengerjakan tugas, prinsip ini juga mereka terapkan pada saat menhadapi UAS. Mereka menekan ego sendiri dan mengutamakan kebersaam demi mencapai tujuan yang sama yaitu lulus semua dengan predikat A. “Kita gak mentingin ego masing – masing karna ini bukan SMA yang hanya ada Ranking 1, 2 dan 3. Harapan nya sih sekelas kita dapet predikat mahasiswa berprestasi”. Ujar Huda Izzatul, mahasiswa kelas TI 02.

Untuk merealisasikan tujuan tersebut, kelas TI 02 punya metode tersendiri yaitu dengan kongkow bareng sebelum ujian berlangsung, baik itu ujian kelas, UTS ataupun UAS. Dengan menghilangkan rasa “saya paling”, anak – anak TI 02 ini berhasil menciptakan suasana nyaman setiap kali belajar bersama. Dengan begitu, tidak ada yang merasa paling pintar dan merasa paling kurang.

Dalam menghadapi UAS kali ini pun, anak - anak TI 02 beberapa kali melakukan kongkow bareng satu hari sebelum ujian berlangsung. Aktivitas ini bahkan memicu semangat belajar kelas lainnya bahkan beberapa orang dari kelas lain sering kali ikut serta dalam belajar bersama. “terkadang ada anak kelas lain yang ikutan, yah kita mah seneng – seneng aja, tambah banyak orangnya jadi tambah seru belajarnya”. Imbuh salah satu anak kelas TI 02 pada saat kongkow bareng.

Berprestasi tidak harus sendirian karena kampus bukan lagi SMA”. Kalimat itulah yang selalu dipegang teguh oleh anak – anak TI 02 sebagai motivasi untuk saling membantu. Pemandangan yang sangat indah yang dilakukan oleh mahasiswa TI 02 ini, Mereka berharap hal ini bisa ditiru dan dilakukan oleh kelas lain dengan harapan semua mahasiswa minimal memahami matakuliah yang tidak diketahuinya, lebih jauhnya semua mahasiswa bisa mendapat gelar “mahasiswa berprestasi”.

Published in Pojok Mahasiswa
Senin, 02 April 2018 03:24

Ishafani, Mahasiswa segudang Prestasi

Muhammad Isfahani Ghiath nama yang begitu populer dikampus STT NF. Ia adalah seorang mahasiswa berprestasi dari jurusan teknik informatika 2015 yang sering menjadi pembicara di acara-acara Developer. Salah satu nya adalah Developer Student Clubs Indonesia Summit 2018 yang pertama kali diadakan oleh Google. Acara ini diadakan di Bali, pada tanggal 3-4 Maret 2018.

Apasih Developer Student Clubs itu ?

Developer Student Clubs adalah sebuah komunitas untuk mahasiswa yang dipresentasikan oleh Google. Developer student clubs ini bertujuan untuk meningkatkan ekosistem developer, meningkatkan skill development dan berkolaborasi untuk menyelesaikan masalah melalui teknologi mobile ataupun web development. Program DSC ini sukses meningkatkan ekosistem di India, maka dari itu, Google mencoba untuk merealisasikannya untuk mahasiswa di Indonesia. DSC akan memilih satu mahasiswa dan mahasiswi dari setiap kampus sebagai perwakilan untuk menjadi DSC Leader. Saat ini, terdapat 20 mahasiswa yang terpilih menjadi Pilot DSC Leader, dan 40 mahasiswa lainnya menjadi DSC Leader. Total, ada sebanyak 60 mahasiswa di 60 universitas di Indonesia yang menjadi DSC Leader.

Tidak hanya itu, Google juga mengajak para karyawan Google dari seluruh dunia untuk berpartisipasi dalam menyambut DSC Indonesia. Dari 20 pilot DSC Leader yang ada di Indonesia, 8 DSC Leader diberikan kesempatan untuk Lighting Talk tentang tema yang sudah ditentukan.

Nah, kebetulan saya diamanahkan untuk sharing tentang Introduce new tech to others. Saya mencoba menjelaskan ke 59 DSC Leader untuk bagaimana cara memperkenalkan para calon participant tentang teknologi baru yang sedang berkembang, memberikan pemahaman dan best practicle dalam penyampaian teknologi terbaru, ujar isfhani ketika diwawancarai kemarin malam (09/03/2018).

Ia juga mengatakan “Keren banget! serasa, saya seperti orang yang beruntung bisa keterima menjadi salah satu DSC Leader. Acaranya di bali pun keren banget, pagi sampe malam jadi raja haha, hotel bintang lima, makanan unlimited dan kolam renangnya enak banget. Eh bukan itu deng, saya senang banget Google mempercayakan saya untuk menjadi Pilot DSC Lead, memberikan wawasan yang lebih untuk menjadi seorang pemimpin, network yang luas karena dikenalkan oleh banyak Googlers (sebutan karyawan google) dari berbagai dunia. Keren nya lagi, kita bisa berbincang empat mata dengan para googlers dan dapet insight dan impressive dari mereka tentang pengalaman di google.

Ia juga menyampaikan pesan agar mahasiswa STT NF juga bisa mengikuti acara keren seperti ini “Buat temen-temen di NF, persiapkan diri kalian, DSC Lead akan membuka kesempatannya lagi di tahun depan (atas rekomendasi dari DSC Lead sebelumnya ya, saya hahaha). Tetap semangat, sering-sering ikut kegiatan komunitas untuk mendapatkan banyak pengalaman. hal yang perlu di persiapin sih, kredibilitas seorang developer dan bahasa inggris yang cukup. itu aja :D” ujarnya sambal sedikit tertawa

Published in Pojok Mahasiswa

Kuliah Umum menjadi agenda rutin saat menjelang ataupun telah masuk semester baru di Sekolah Tinggi Teknologi Terpadu Nurul Fikri.

Menginjak tahun 2018, mahasiswa STT-NF telah memasuki tahun ajaran semester genap. Di tengah kegiatan belajar mengajar yang sedang berlangsung, tepatnya pada Selasa, 6 Maret 2018, Kampus yang memiliki tagline Technopreneur Campus ini mengadakan kuliah umum dengan tema dan suasana yang berbeda dari kuliah umum sebelumnya.

Kuliah umum kali ini mengangkat tema “Google Summer of Code”, yang mana dihadiri oleh dua pembicara dari Google, yaitu Cat Allman (Program Manager Open Source Outreach, Google) dan Stephanie Taylor (Program Manager Google Summer of Code and Google Code-in, Google).

Google Summer of Code atau sering disingkat GsoC, merupakan sebuah program internasional tahunan yang pertama kali digelar sejak Mei hingga Agustus 2005. Google menghadiahkan tunjangan sebesar 30 juta rupiah untuk semua mahasiswa (berusia 18 tahun atau lebih) yang berhasil menyelesaikan dan mengembangkan projek perangkat lunak open source selama musim panas.

Selain membahas tentang Google Summer of Code, salah seorang pembicara yaitu Cat Alman, sedikit menyinggung tentang open source kepada peserta kuliah umum yang hadir pada hari itu.

Kuliah umum diselenggarakan di ruang Auditorium STT-NF. Selama kurang lebih 3 jam kuliah umum berlangsung, terdapat beberapa rangkaian acara diantaranya, sambutan dari ketua STT NF olah bapak Ahadiyat, lalu sambutan dari Muh Isfhani Giyath (TI 2015) sebagai Project Officer, serta pengumuman mahasiswa berprestasi dari masing-masing prodi TI dan SI semester 2, 4, dan 6.

Salah satu mahasiswa berprestasi mengatakan “Disini saya dapat menimba ilmu dalam jangkauan yang luas, yang nantinya ingin saya aplikasikan untuk kepentingan ummat, sedangkan mendapat gelar mahasiswa berprestasi bagi saya itu adalah bonus (Rizky Hidayat Panjaitan, TI 2016)", yang saat itu dilontarkan pertanyaan terkait motivasi belajar di STT NF.

Kuliah umum kali ini berjalan dengan baik, karena pembicara yang hadir menyampaikan presentasi menggunakan bahasa internasional, Inggris,  sehingga peserta dapat lebih seksama dan dapat memahami materi yang disampaikan. Antusiasme peserta dalam mengikuti kegiatan ini terlihat begitu tinggi, ditandai dengan banyaknya pertanyaan yang diajukan kepada Mrs. Cat dan Mrs. Taylor.

Sebelum kuliah umum berakhir, peserta dan pembicara melewati satu sesi terakhir dengan foto-foto bersama.

Published in Kegiatan Kampus
Halaman 1 dari 2