Rabu (25/4/2018) merupakan hari yang menyenangkan bagi Budi Tanjung, seorang warga di Kelurahan Jatijajar, Tapos, Depok. Hari itu dinding saluran air di wilayah RT 06/RW 010 yang longsor telah diperbaiki oleh petugas Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Pemkot Depok. “Terima kasih banyak atas perhatian dan bantuan yang diberikan,” kicau @btanjung yang di-mention ke akun @DinasPUPR, @pemkotdepok, dan @IdrisAShomad. Budi menyampaikan laporan lapangan tentang turap saluran air yang longsor pada hari Senin (23/4) pukul 17.23 sore. Laporan via Twitter itu ditujukannya kepada @satgas_SDA, @DinasPUPR, @pemkotdepok, dan @IdrisAShomad. Pada hari Selasa (24/4) jam 08.34 pagi laporan Budi direspon oleh @pemkotdepok: “@btanjung terima kasih, laporan kami sampaikan kepada @satgas_SDA dan @DinasPUPR untuk ditindaklanjuti.” Tanggapan itu di-cc juga ke @manto_dpk.

Esok harinya (25/4) sekitar pukul 12.07 siang, Budi sudah menyaksikan empat orang petugas Pemkot Depok sedang memperbaiki turap yang longsor. Dari linimasa itu, kita lihat laporan warga direspon Pemkot Depok dalam waktu 15 jam 11 menit. Lalu, perbaikan fasilitas publik yang rusak dilaksanakan satuan tugas terkait 27 jam 33 menit kemudian. Jadi, total waktu yang dibutuhkan aparat Pemkot Depok untuk merespon laporan warga sekitar 42 jam 44 menit atau kurang dari 2 hari (48 jam). Suatu prestasi yang patut diacungi jempol dan harus terus dipertahankan, dan bahkan ditingkatkan.

Di bawah kepemimpinan Walikota Mohammad Idris Abdul Shomad respon aparat Pemkot Depok dibuat lebih sistematis dan terkendali dengan aplikasi SIGAP (sistem terintergrasi untuk aspirasi dan pengaduan). “Saya berharap seluruh pegawai atau ASN di Kota Depok mulai hari ini untuk mengunduh aplikasi Sigap yang telah diluncurkan (25/4) sebagai salah satu langkah dan upaya memberikan pelayanan ke masyarakat dengan cepat dan mudah,” perintah Walikota Muhammad Idris didampingi Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo), Sidik Mulyono.

Selain sebagai salah satu upaya merespon berbagai persoalan yang kerap dihadapi masyarakat dalam mendapatkan pelayanan, kehadiran aplikasi Sigap diharapkan dapat meningkatkan kinerja ASN di Kota Depok sesuai dengan program yang telah direncanakan. Melalui aplikasi Sigap, seluruh lapisan masyarakat dapat menyampaikan berbagai keluhan dan masalah yang tengah dihadapi dalam mengurus keperluan, termasuk pengaduan hal sensitif (dengan merahasiakan identitas pelapor) yang ditujukan kepada pejabat tertentu.

Kesigapan aparat Pemkot adalah salah satu karakter Tatakelola Perkotaan (urban governance) yang disyaratkan UN-Habitat, yakni program di bawah Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) yang bertujuan membangun masa depan lebih baik bagi kondisi perkotaan di seluruh dunia. Tatakelola perkotaan menyediakan kerangka hukum, politik yang efisien, proses manajerial dan administratif yang memampukan pemerintah daerah untuk merespon kebutuhan warga. Tatakelola yang baik melibatkan berbagai institusi dan individu dalam pengelolaan kota sehari-hari, sehingga urusan kota bukan hanya monopoli birokrasi semata-mata, melainkan proses kolaboratif untuk merealisasikan agenda jangka pendek dan jangka panjang dari pembangunan kota.

Dalam era digital kiwari, tatakelola perkotaan merupakan perangkat lunak (sistem dan prosedur) yang memungkinkan perangkat keras (struktur dan aparat) perkotaan berfungsi secara efektif. Tatakelola efektif ditandai sifat demokratik dan inklusif (dalam proses perencanaan dan pengambilan keputusan), berjangka panjang dan terintegrasi, multi-skala dan multilevel, berciri teritorial (adaptasi lingkungan), kompeten dan sadar memanfaatkan perkembangan teknologi.

Menurut Kementerian Kominfo RI, Depok termasuk salah satu contoh dari 100 smart city di Indonesia yang digulirkan tahun 2018. Kota Cerdas adalah kota yang dapat mengelola berbagai sumber dayanya secara efektif dan efisien untuk menyelesaikan berbagai tantangan kota menggunakan solusi inovatif, terintegrasi, dan berkelanjutan dengan menyediakan infrastruktur dan memberikan layanan-layanan kota yang dapat meningkatkan kualitas hidup warganya.

Tidak sembarang kota masuk kategori smart city, karena ada parameter yang harus dipenuhi, yakni: Kemampuan Keuangan Daerah (KKD), Kota/Kabupaten Berkinerja Tinggi, Indeks Kota Berkelanjutan, serta Indeks Kota Hijau. Pemerintah juga memasukkan faktor Dimensi Pembangunan Sektor Unggulan, Dimensi Pembangunan Pemerataan dan Kewilayahan, dan kesesuaian dengan program prioritas nasional (Nawa Cita). Sebagai realisasi smart city, Pemkot Depok mendukung inisiatif Kelurahan Mekarjaya, Kecamatan Sukmajaya yang berupaya menjadikan Rukun Warga (RW) 07 sebagai Kampung Cyber. Lurah Mekarjaya, Ahmad, memilih RW 07 lantaran wilayah tersebut memiliki keunggulan sumber daya manusia (SDM) dibandingkan wilayah lain. Warga di lingkungan itu mayoritas melek internet.

Mulai dari anak-anak yang tergabung dalam Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R) hingga warga dewasa memiliki kapasitas pengetahuan lebih di dunia digital. Kelurahan Mekarjaya menggandeng Dinas Kominfo Kota Depok untuk memasang jaringan wifi gratis. Dengan demikian, tidak ada sudut di lingkungan RW 07 yang tidak terjangkau jaringan internet. Hal itu, sejalan dengan Visi Kota Depok yang “Unggul, Nyaman dan Religius”.

Kota Depok menetapkan branding sebagai “Friendly City” (Kota Bersahabat). Dengan semboyan itu, Pemkot Depok merangkul segenap lapisan masyarakat, mulai sahabat anak dan keluarga, sahabat UKM, sahabat Petani, sahabat Muda-mudi, sahabat Lansia, sahabat Lingkungan, hingga sahabat Pengusaha. Sebagai bukti sahabat lanjut usia, misalnya, Ketua Tim Penggerak PKK Kota Depok, Elly Farida, rutin menyapa para lansia di berbagai kelurahan dalam program Curhat Lansia. “Angka harapan hidup di Depok kini mencapai 74 tahun, salah satu yang tertinggi di Indonesia,” ungkap Bunda Elly.

Kinerja Pemkot Depok untuk mewujudkan visi dan misinya mendapat apresiasi dari Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Depok. Dalam Rapat Paripurna Istimewa DPRD Kota Depok (25/04/2018), Ketua Panitia Khusus Laporan Keterangan Pertanggung Jawaban (LKPJ), Hamzah, menyampaikan rekomendasi DPRD. “Sebagai bagian dari penyelenggara pemerintahan daerah, DPRD menjunjung objektivitas dan tetap bersikap kritis konstruktif bagi peningkatan kinerja penyelenggaraan Pemerintahan Kota Depok. Oleh karenanya kami memberikan apresiasi, pertama kepada Wali Kota Depok atas 28 prestasi Wali Kota maupun Pemerintah Kota Depok yang diperoleh pada tahun 2017 dari berbagai sumber pemberi penghargaan,” kata Hamzah.

DPRD Kota Depok juga memberikan apresiasi kepada seluruh jajaran Pemerintah Kota Depok atas diraihnya penghargaan tertinggi dalam akuntansi dan pelaporan keuangan pemerintah (Opini Wajar Tanpa Pengecualian/WTP) yang diserahkan Badan Pemeriksa Keuangan RI untuk keenam kalinya secara berturut-turut. Selanjutnya DPRD mengapresiasi segenap pemerintah dan masyarakat Kota Depok yang telah berhasil membawa Kota Depok meraih Piala Adipura untuk pertama kalinya pada 2017.

Sebelumnya, Pemkot Depok mendapat Anugerah Pangripta Nusantara (APN) atau penghargaan sebagai kota dengan perencanaan dan pencapaian pembangunan terbaik II tingkat Provinsi Jawa Barat tahun 2018. Bukan sekadar penghargaan yang dikejar, tapi komunikasi publik yang akrab dan terbuka menjadi tujuan, sebagaimana pengakuan dari Persatuan Wartawan Indonesia (PWI).

“Dalam masa kepemimpinan, Walikota Mohammad Idris dan Wakil Walikota Pradi Supriatna sangat kooperatif dengan media. Saat kami ingin meminta statement mengenai program kerja Kota Depok, langsung mendapatkan respon baik dari mereka,” jelas Kepala Seksi Kesejahteraan PWI Kota Depok, Rahmat Tarmuji, tatkala media gathering tahun lalu. Rahmat menuturkan, bukti keterbukaan informasi yang telah berhasil dijalankan Pemkot Depok adalah dengan adanya portal berita resmi milik pemerintah. Hal tersebut sangat membantu para wartawan untuk mencari informasi terkait kegiatan dan program Pemkot Depok.

Ada lagi, testimoni dari mantan Menteri Perhubungan Jusman Syafi’i Djamal yang terekam dalam posting di media sosial. “Saya senang diundang dalam acara Komunitas Alumni ITB di Depok. Ada semangat "glocal" (global-local) yang saya temui. Berpikir global bertindak lokal. Apalagi di situ saya bisa mendengar KH Moh Idris MA selaku Walikota Depok berkisah tentang visi “Zero Waste” dan “Smart City” Kota Depok yang ia ingin kembangkan. Kebetulan beliau baru dua bulan jadi Walikota. Jadi masih fresh,” tulis Jusman dalam dinding Facebooknya.

Ide tentang Zero Waste amat menarik, karena Jusman dulu sempat mencanangkan program “roadmap to zero accident” dalam sistem transportasi nasional, tahun 2007. Waktu itu, semua orang bilang: “Ah omong kosong itu barang, mana mungkin ada Zero Accident.” Begitu juga ketika Walikota Depok bilang "zero waste" (tak ada limbah) pastilah semua berkerenyit jidatnya dan bertanya: "Apa mungkin?". Faktanya, dalam satu hari Kota Depok memproduksi sampah plastik dengan tonase yang besar. Volumenya dalam satu hari telah distudi mampu ditransformasikan menjadi pembangkit energi listrik, punya potensi yang cukup untuk menerangi lima kecamatan. Sementara di Depok ada 11 kecamatan. “Itu latar belakang ide zero waste. Mengubah limbah jadi pembangkit listrik. Supaya bebas BBM. Sebuah inovasi,” simpul Jusman.

Berbagai kesaksian dan bukti lapangan menandai optimisme dalam peringatan 19 tahun Kota Depok. Walikota Mohammd Idris melanjutkan tradisi kepemimpinan yang telah dirintis Badrul Kamal (1999-2006) dan Nur Mahmudi Ismail (2006-2016). Sebenarnya sejarah Depok kontemporer telah dimulai sejak Walikota Administratif dijabat Mochammad Rukasah Suradimadja (1982-1984). Berkat dukungan dan kolaborasi beragam pihak, kini Depok semakin sigap, cerdas dan bersahabat dengan seluruh komponen masyarakat. 

paksapto

Bapak Sapto Waluyo (Dosen STT Terpadu Nurul Fikri)

Published in Artikel
Selasa, 05 September 2017 02:51

Unforgottable Moments In Malang City

Malang? Itu adalah sebuah Kota indah yang belum pernah terpikirkan sedikitpun untuk dikunjungi. Karena sebenarnya ada destinasi tempat yang harus Aku kunjungi yang tertera dalam buku resolusiku. Kala itu sedang duduk santai menikmati nada bersahutan yang berasal dari handphone akibat masuknya pesan dari Whatsapp. Ketika Aku buka, sempat tidak percaya waktu membacanya. Karena pesannya adalah terpilihnya Aku sebagai Delegasi Musabaqah Cabang Tartilil Qur’an Kampus STT Terpadu Nurul Fikri. Sontak gembira dan langsung Aku kabari Ibuku yang sedang memasak di dapur. Reaksi Bersyukur, Positif, Haru, Bangga dan Bahagia pun muncul dari raut wajahnya.

Mulai saat itu, peraturan – peraturan pun mulai dibuat oleh Ibuku sampai jadwal belajar pun diatur oleh Ibuku. Tidak boleh makan ini, tidak boleh minum itu sampai hari perlombaan itu tiba. Yaaa sempet kesel sih karena tidak bisa makan sesuka nafsu dan minum sesuka hati. Tapi Aku yakin itu yang terbaik untukku. Setiap pagi harus jalan – jalan di luar untuk memperpanjang napas sehingga nanti Aku saat lomba tidak kehabisan napas. Benar saja, beberapa kali Aku lakukan, Alhamdulillah suaraku mulai merdu dan tajwid mulai lebih baik dari sebelumnya begitu juga napasku lebih panjang dari sebelumnya. Selain dibimbing oleh Ibuku, Kampus STT NF pun memfasilitasi Ustadz yang ahli dibidangnya untuk membimbing Musabaqoh Cabang Tartilil dan Tilawatil.

Alhamdulilah Allah swt permudah segalanya hingga tanggal yang aku nanti – nantikan itu hadir. Yap! Kemarin adalah Tanggal 27 Juli 2017. Aku belum sempat packing dari sebelumnya karena memang numpuknya aktivitas pada saat itu, hingga akhirnya harus packing di hari H. Aku mendapat kereta jam 18.16 wib di Stasiun Pasar Senen. Dan saat hari H itu, grup yang diberi nama Peserta MTQ MN XV itu sangat ramai. Dan Official kami yaitu Kak Nina dan Kak Yudho sangat membantu kami mulai dari tibanya kami di Stasiun Pasar Senen sampai pulang ke rumah. Aku mulai langkahkan kaki dengan tingginya tas karena Aku membawa cariel dan tas selempang kecil di depan ke Stasiun Pasar Senen. Dan akhirnya sampailah di Stasiun Pasar Senen sekitar jam 16.00 wib. Disana kami janjian dengan Delegasi Cabang lain dan akhirnya bertemu. Waktu sudah menunjukkan pukul 17.30 wib, dan teman kami belum juga menunjukkan batang hidungnya yaitu Akmal. Gelisah mulai melanda. Dan akhirnya kami memutuskan untuk masuk sebagian ke kereta dan meninggalkan satu teman kami untuk menunggu Akmal.

Kami kumpulkan tiket kereta dan ktp kami, dan saat itu satu teman kami terlihat bingung mencari keberadaan tiketnya. Dan akhirnya dia pun bilang kalau tiketnya hilang. Kami pun kaget dan mulai kacau, akhirnya dia hampir pasrah untuk tidak ikut ke Malang, tapi akhirnya Agung membantu mencarinya dan akhirnya ketemu. Yap! Tiketnya diselipan tasnya dan dia nyari di dompet yaa jelas tidak ketemu lah hehe. Akhirnya kami langsung bergegas masuk ke kereta dan mencari no kursi yang sesuai dengan yang tertera di tiket kereta. Kami pun menunggu Akmal dan Nendi yang menunggu Akmal di Stasiun Pasar Senen, dan akhirnya sampailah mereka di dalam kereta.

Alhamdulillah Allah swt selalu mempermudah langkah kami. Setelah itu kami terus menikmati perjalanan yang ditemani oleh suara gujes gujes selama kurang lebih 16 jam. Dengan bangku yang super serius kalau kata Chai, kami nyaman disana karena adanya kebersamaan yang menurutku indah dan tidak bisa dilupakan. Selama perjalanan bangku yang diduduki kami selalu ramai dengan celotehan Agung, pertanyaan yang tidak berfaedahnya Agung dan jawaban yang tidak berfaedahnya kami hehe. Sampai akhirnya orang – orang yang duduk disekeliling kami ikut merasakan kebahagiaan. Akhirnya tulisan “Malang” pun muncul di depan kereta kami dan tandanya kami sudah sampai di kota tujuan.

Kami pun bergegas merapikan bawaan kami dan menggendong apa yang kami bawa sampai kami bertemu dengan Panitia yang membimbing Kampus kami selama di Malang. Kami naik ke elf dan sepanjang perjalanan menuju UIN Malang, bahasan kami adalah bakso dan makanan karena kondisi perut yang sudah harus diisi hehe. Di saat itu, kami sudah mendapat jadwal tampil kami dan rasanya jantung berasa sedang jatuh cinta terus – menerus karena detakannya yang terlalu cepat. Dan aku mendapat jadwal tampil di Hari Ahad di sesi pertama dari jam 07.00 – 12.00 wib di Universitas Brawijaya. Sesampainya di UIN, kami segera mencari Asrama kami dan disitulah kami berpisah dengan teman Ikhwannya karena area Ikhwan dan Akhwat yang terpisah lumayan jauh. Kami bawa barang – barang kami menuju Asrama Fatimah, karena kata LO kami, kamar kami di Asrama Fatimah. Sesampainya di Asrama Fatimah, kami mendapat kamar di lantai 4 paling atas.

Menaiki tangga dan membawa segudang perlengkapan itu luar biasa dan sampailah kami di depan kamar 51. Kami melihat nama yang tertempel di pintu kamar, ternyata tidak ada nama kami, akhirnya kami mengecek Asrama kami di handphone, dan ternyata Asrama kami Asma bukan Fatimah. Sungguh luar biasa perjuangan hari itu. Sesampainya di dalam kamar, kami rebahkan tubuh kami yang mulai butuh dengan Kasur. Kami sekamar dengan mahasiswi dari UNS (Universitas Negeri Solo) karena jumlah kami sedikit hanya bertiga. Mulai hari itu, kami mulai latihan dengan cabangnya masing – masing dan Aku dibantu sama Ibuku belajar menggunakan Video Call.

Ahad pun tiba, pagi hariku sudah rapi dengan Almamater Biruku dan Aku kalungkan Id Card Musabaqahku. Tak lupa Aku bawa Qur’an yang Ibuku pesan. Aku latihan terus menerus dan perasaan mulai tidak karuan sulit untuk dijelaskan. Sungguh luar biasa detakan jantung pada saat itu. Aku langkahkan kaki menuju Unibraw dan sampailah di gedung dimana aku akan lomba yaitu Gedung UB TV. Aku masuk ke ruangan itu ditemani dengan Dua Official Kampusku. Maa syaa Allah melihat gedung itu, suasana itu panggung itu dan juri itu membuatku ingin pulang saja. Tapi Aku ingat dengan nasihat – nasihat Ibuku kalau Aku harus menampilkan yang terbaik.

Sesi pertama pun dimulai, Aku mendapat no urut 112 dan dipersilahkan duduk di tempat peserta. Lagi – lagi detakan jantungku tidak karuan setelah melihat peserta demi peserta tampil. Dan tibalah saat giliranku, Aku pun dipersilahkan duduk di tempat khusus pertanda setelah ini adalah no urut ku. Dan Aku dipersilahkan untuk mengambil Maqra’ atau bacaan yang akan Aku baca nantinya. Rasa takut, senang, haru, was - was , deg - degan campur aduk kala itu. Aku di breafing oleh Panitia dan MC menyebutkan no urutku pertanda Aku harus masuk ke ruangan kaca itu. Aku pun berjalan menuju ruangan kaca itu dimana seluruh kampus yang terdaftar dalam musabaqoh cabang ini, duduk ditempat itu.

Tidak ada suara sama sekali yang terdengar dalam ruangan itu, Aku hanya melihat lampu pertanda Aku harus memulai bacaanku. Awalnya grogi, tapi lama – kelamaan Aku menikmati membaca di dalam ruangan itu, ternyata tidak segrogi yang Aku bayangkan. Lampu sudah berwarna merah pertanda bacaanku mulai diselesaikan. Dan Alhamdulillah sekali lagi Allah swt permudah segalanya. Aku serahkan segala ikhtiarku padaNya. Saat itu pertama kalinya Aku menikmati udara segar di Kota Malang dengan detakan jantung yang normal karena lepasnya tanggung jawab besarku saat itu.

Akhirnya kami pun menentukan tujuan jalan – jalan kami, karena di setiap MTQMN ternyata ada saat jalan – jalannya. Bersyukur sekali Aku pada saat itu bisa merasakan indahnya Pantai di Malang. Tidak terasa 8 hari sudah kami lewati bersama. Dan Tanggal 3 Agustus pun tiba, tandanya kami harus bersiap – siap kembali ke Jakarta. Rasanya ingin berlama – lama disana dengan suasana yang teduh karena Lantunan Al Qur’an dan sejuknya Kota Malang, tapi perjuangan kami belum selesai di Jakarta. Nilai pun mulai keluar satu per satu dan Allah swt masih belum memberikan Kampus kami STT NF masuk ke Final. Tapi kami tidak berputus asa, bahkan kami bertekad untuk ikut pada MTQ MN selanjutnya. Karena menurut kami, bukan karena kami tidak layak untuk masuk ke Final , tetapi Allah swt tahu waktu yang tepat untuk Kampus kami STT NF terpilih ke babak Final.
Wallahu a’lam bisshowaf

Published in Kisah dan Curhat