Kamis, 07 Jun 2018 10:30

Luqni Baehaqi: Menghadapi Program Magang BUMN

Written by  Afifah Sausan Mahasiswi STTNF
Rate this item
(0 votes)

Muhammad Luqni Baehaqi, mahasiswa Sistem Informasi Semester 6 STT-NF dalam curhatannya sebagai mahasiswa akhir mengatakan "Mindeset kebanyakan masyarakat Indonesia ketika seorang lulus kuliah maka sudah siap untuk bekerja. Kenyataannya tidak sedikit lulusan sarjana yang minim skill untuk bekerja sesuai dengan jurusannya sehingga tidak sedikit pula mahasiswa yang akhirnya menganggur atau bekerja tidak sesuai dengan bidangnya. Hal ini menjadi kekhawatiran mahasiswa tingkat akhir seperti saya, maka untuk mengatasi hal tersebut beberapa kampus memiliki program yang mengharuskan mahasiswa untuk melakukan praktek kerja lapangan agar mahasiswa mempunyai experience di dunia kerja atau industri secara real. Hal ini dipersiapkan oleh STT-NF untuk bisa benar-benar menyiapkan SDM yang siap bersaing secara global, dengan memperluas jaringan kerjasama ke perusahaan-perusahaan. Saat ini STT-NF sudah memiliki beberapa kerjasama terkait magang atau praktek kerja lapangan, seperti program kerjasama dengan telkom yaitu tiga tahun kuliah satu tahun magang di telkom dan program magang bersertifikasi dari BUMN".

Saya adalah salah satu mahasiswa yang terpilih mengikuti program magang BUMN. Program magang mahasiswa bersertifikat yang diadakan oleh Forum Human Capital Indonesia (FHCI) dimana FHCI berkerjasama dengan 68 BUMN. Program magang mahasiswa bersertifikat merupakan program magang untuk mahasiswa dan juga diberikan sertifikas. Mahasiswa yang mengikuti program magang BUMN akan ditempatkan di berbagai perusahaan BUMN yang tersebar di Indonesia, program magang dilaksanakan selama 6 bulan.

20 Mei 2018 telah dilaksanakan opening ceremony Program Magang Mahasiswa Bersertifikat di Gedung Plaza Bank Mandiri. Ada sekitar 400 mahasiswa perwakilan setiap kampus baik PTN maupun PTS yang mengikuti program ini. STT-NF adalah salah satu PTS yang mendapatkan kesempatan untuk mengikuti program magang BUMN.

Pada sesi grand launching program magang BUMN ada hal yang menarik dimana terjadi dialog antara perwakilan direktur BUMN, perwakilan Kemenristek Dikti, dan perwakilan Rektor Universitas. Ada satu pembahasan yang menjadi tamparan keras bagi para akademisi, dimana dari BUMN yang diwakili oleh direktur angkasa pura II mengatakan bahwa tidak adanya sinergi antara akademisi dengan pemerintah. Berbeda keadaannya dengan negara-negara maju dimana riset dan pengembangan yang dilakukan oleh akademisi itu menjadi core dari berkembangnya Badan Usaha Milik Negara. Indonesia memiliki banyak sumber daya manusia yang berada dalam usia produktif namun kenyataannya mereka tidak memiliki kemampuan yang dibutuhkan. Dengan adanya program ini harapannya bisa menjadi jembatan yang menghubungkan riset akademisi dengan BUMN, karena hampir seluruh BUMN membutuhkan riset dan sampai sekarang universitas belum melakukannya. Ibu Rini selaku Menteri BUMN mengatakan bahwa mahasiswa yang mengikuti program magang mahasiswa bersertifikat bisa memiliki peluang kerja di BUMN pasca magang selesai .

Di akhir acara, perwakilan mahasiswa dan rektor masing kampus diberi pin sebagai simbol disahkan untuk magang di berbagai perusahaan BUMN. Saya sempat merasa minder, dimana saya berada di antara mahasiswa yang kuliah di ternama, padahal ini masih tahap magang. Saya tidak bisa membayangkan saat lulus nanti, ada ribuan lulusan dari berbagai kampus dan harus saling bersaing untuk mendapatkan pekerjaan. Namun saya optimis, Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum sampai dirinya sendiri yang merubahnya. Saya tidak takut meskipun berasal dari kampus swasta yang baru berumur 5 tahun, karena prinsipku sukses atau tidaknya seseorang itu berawal dari pribadi masing-masing, kita tak pantas jika menyalahkan keadaan dan orang lain, ujarnya di akhir curhatan.

Read 1262 times Last modified on Senin, 11 Jun 2018 17:02