Tuesday, 05 September 2017 02:51

Unforgottable Moments In Malang City

Malang? Itu adalah sebuah Kota indah yang belum pernah terpikirkan sedikitpun untuk dikunjungi. Karena sebenarnya ada destinasi tempat yang harus Aku kunjungi yang tertera dalam buku resolusiku. Kala itu sedang duduk santai menikmati nada bersahutan yang berasal dari handphone akibat masuknya pesan dari Whatsapp. Ketika Aku buka, sempat tidak percaya waktu membacanya. Karena pesannya adalah terpilihnya Aku sebagai Delegasi Musabaqah Cabang Tartilil Qur’an Kampus STT Terpadu Nurul Fikri. Sontak gembira dan langsung Aku kabari Ibuku yang sedang memasak di dapur. Reaksi Bersyukur, Positif, Haru, Bangga dan Bahagia pun muncul dari raut wajahnya.

Mulai saat itu, peraturan – peraturan pun mulai dibuat oleh Ibuku sampai jadwal belajar pun diatur oleh Ibuku. Tidak boleh makan ini, tidak boleh minum itu sampai hari perlombaan itu tiba. Yaaa sempet kesel sih karena tidak bisa makan sesuka nafsu dan minum sesuka hati. Tapi Aku yakin itu yang terbaik untukku. Setiap pagi harus jalan – jalan di luar untuk memperpanjang napas sehingga nanti Aku saat lomba tidak kehabisan napas. Benar saja, beberapa kali Aku lakukan, Alhamdulillah suaraku mulai merdu dan tajwid mulai lebih baik dari sebelumnya begitu juga napasku lebih panjang dari sebelumnya. Selain dibimbing oleh Ibuku, Kampus STT NF pun memfasilitasi Ustadz yang ahli dibidangnya untuk membimbing Musabaqoh Cabang Tartilil dan Tilawatil.

Alhamdulilah Allah swt permudah segalanya hingga tanggal yang aku nanti – nantikan itu hadir. Yap! Kemarin adalah Tanggal 27 Juli 2017. Aku belum sempat packing dari sebelumnya karena memang numpuknya aktivitas pada saat itu, hingga akhirnya harus packing di hari H. Aku mendapat kereta jam 18.16 wib di Stasiun Pasar Senen. Dan saat hari H itu, grup yang diberi nama Peserta MTQ MN XV itu sangat ramai. Dan Official kami yaitu Kak Nina dan Kak Yudho sangat membantu kami mulai dari tibanya kami di Stasiun Pasar Senen sampai pulang ke rumah. Aku mulai langkahkan kaki dengan tingginya tas karena Aku membawa cariel dan tas selempang kecil di depan ke Stasiun Pasar Senen. Dan akhirnya sampailah di Stasiun Pasar Senen sekitar jam 16.00 wib. Disana kami janjian dengan Delegasi Cabang lain dan akhirnya bertemu. Waktu sudah menunjukkan pukul 17.30 wib, dan teman kami belum juga menunjukkan batang hidungnya yaitu Akmal. Gelisah mulai melanda. Dan akhirnya kami memutuskan untuk masuk sebagian ke kereta dan meninggalkan satu teman kami untuk menunggu Akmal.

Kami kumpulkan tiket kereta dan ktp kami, dan saat itu satu teman kami terlihat bingung mencari keberadaan tiketnya. Dan akhirnya dia pun bilang kalau tiketnya hilang. Kami pun kaget dan mulai kacau, akhirnya dia hampir pasrah untuk tidak ikut ke Malang, tapi akhirnya Agung membantu mencarinya dan akhirnya ketemu. Yap! Tiketnya diselipan tasnya dan dia nyari di dompet yaa jelas tidak ketemu lah hehe. Akhirnya kami langsung bergegas masuk ke kereta dan mencari no kursi yang sesuai dengan yang tertera di tiket kereta. Kami pun menunggu Akmal dan Nendi yang menunggu Akmal di Stasiun Pasar Senen, dan akhirnya sampailah mereka di dalam kereta.

Alhamdulillah Allah swt selalu mempermudah langkah kami. Setelah itu kami terus menikmati perjalanan yang ditemani oleh suara gujes gujes selama kurang lebih 16 jam. Dengan bangku yang super serius kalau kata Chai, kami nyaman disana karena adanya kebersamaan yang menurutku indah dan tidak bisa dilupakan. Selama perjalanan bangku yang diduduki kami selalu ramai dengan celotehan Agung, pertanyaan yang tidak berfaedahnya Agung dan jawaban yang tidak berfaedahnya kami hehe. Sampai akhirnya orang – orang yang duduk disekeliling kami ikut merasakan kebahagiaan. Akhirnya tulisan “Malang” pun muncul di depan kereta kami dan tandanya kami sudah sampai di kota tujuan.

Kami pun bergegas merapikan bawaan kami dan menggendong apa yang kami bawa sampai kami bertemu dengan Panitia yang membimbing Kampus kami selama di Malang. Kami naik ke elf dan sepanjang perjalanan menuju UIN Malang, bahasan kami adalah bakso dan makanan karena kondisi perut yang sudah harus diisi hehe. Di saat itu, kami sudah mendapat jadwal tampil kami dan rasanya jantung berasa sedang jatuh cinta terus – menerus karena detakannya yang terlalu cepat. Dan aku mendapat jadwal tampil di Hari Ahad di sesi pertama dari jam 07.00 – 12.00 wib di Universitas Brawijaya. Sesampainya di UIN, kami segera mencari Asrama kami dan disitulah kami berpisah dengan teman Ikhwannya karena area Ikhwan dan Akhwat yang terpisah lumayan jauh. Kami bawa barang – barang kami menuju Asrama Fatimah, karena kata LO kami, kamar kami di Asrama Fatimah. Sesampainya di Asrama Fatimah, kami mendapat kamar di lantai 4 paling atas.

Menaiki tangga dan membawa segudang perlengkapan itu luar biasa dan sampailah kami di depan kamar 51. Kami melihat nama yang tertempel di pintu kamar, ternyata tidak ada nama kami, akhirnya kami mengecek Asrama kami di handphone, dan ternyata Asrama kami Asma bukan Fatimah. Sungguh luar biasa perjuangan hari itu. Sesampainya di dalam kamar, kami rebahkan tubuh kami yang mulai butuh dengan Kasur. Kami sekamar dengan mahasiswi dari UNS (Universitas Negeri Solo) karena jumlah kami sedikit hanya bertiga. Mulai hari itu, kami mulai latihan dengan cabangnya masing – masing dan Aku dibantu sama Ibuku belajar menggunakan Video Call.

Ahad pun tiba, pagi hariku sudah rapi dengan Almamater Biruku dan Aku kalungkan Id Card Musabaqahku. Tak lupa Aku bawa Qur’an yang Ibuku pesan. Aku latihan terus menerus dan perasaan mulai tidak karuan sulit untuk dijelaskan. Sungguh luar biasa detakan jantung pada saat itu. Aku langkahkan kaki menuju Unibraw dan sampailah di gedung dimana aku akan lomba yaitu Gedung UB TV. Aku masuk ke ruangan itu ditemani dengan Dua Official Kampusku. Maa syaa Allah melihat gedung itu, suasana itu panggung itu dan juri itu membuatku ingin pulang saja. Tapi Aku ingat dengan nasihat – nasihat Ibuku kalau Aku harus menampilkan yang terbaik.

Sesi pertama pun dimulai, Aku mendapat no urut 112 dan dipersilahkan duduk di tempat peserta. Lagi – lagi detakan jantungku tidak karuan setelah melihat peserta demi peserta tampil. Dan tibalah saat giliranku, Aku pun dipersilahkan duduk di tempat khusus pertanda setelah ini adalah no urut ku. Dan Aku dipersilahkan untuk mengambil Maqra’ atau bacaan yang akan Aku baca nantinya. Rasa takut, senang, haru, was - was , deg - degan campur aduk kala itu. Aku di breafing oleh Panitia dan MC menyebutkan no urutku pertanda Aku harus masuk ke ruangan kaca itu. Aku pun berjalan menuju ruangan kaca itu dimana seluruh kampus yang terdaftar dalam musabaqoh cabang ini, duduk ditempat itu.

Tidak ada suara sama sekali yang terdengar dalam ruangan itu, Aku hanya melihat lampu pertanda Aku harus memulai bacaanku. Awalnya grogi, tapi lama – kelamaan Aku menikmati membaca di dalam ruangan itu, ternyata tidak segrogi yang Aku bayangkan. Lampu sudah berwarna merah pertanda bacaanku mulai diselesaikan. Dan Alhamdulillah sekali lagi Allah swt permudah segalanya. Aku serahkan segala ikhtiarku padaNya. Saat itu pertama kalinya Aku menikmati udara segar di Kota Malang dengan detakan jantung yang normal karena lepasnya tanggung jawab besarku saat itu.

Akhirnya kami pun menentukan tujuan jalan – jalan kami, karena di setiap MTQMN ternyata ada saat jalan – jalannya. Bersyukur sekali Aku pada saat itu bisa merasakan indahnya Pantai di Malang. Tidak terasa 8 hari sudah kami lewati bersama. Dan Tanggal 3 Agustus pun tiba, tandanya kami harus bersiap – siap kembali ke Jakarta. Rasanya ingin berlama – lama disana dengan suasana yang teduh karena Lantunan Al Qur’an dan sejuknya Kota Malang, tapi perjuangan kami belum selesai di Jakarta. Nilai pun mulai keluar satu per satu dan Allah swt masih belum memberikan Kampus kami STT NF masuk ke Final. Tapi kami tidak berputus asa, bahkan kami bertekad untuk ikut pada MTQ MN selanjutnya. Karena menurut kami, bukan karena kami tidak layak untuk masuk ke Final , tetapi Allah swt tahu waktu yang tepat untuk Kampus kami STT NF terpilih ke babak Final.
Wallahu a’lam bisshowaf

Published in Kisah dan Curhat
Monday, 04 September 2017 03:17

MTQ MN XV 2017

Semua berawal ketika ada info MTQMN (Musabaqoh Tilawatil Qur’an Mahasiswa Nasional) XV 2017, saya pun mencoba mendaftarkan diri untuk diseleksi dari kampus. Pada hari yang telah ditentukan seleksi pun dimulai, kami diminta untuk membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar. Banyak dari kami yang mendapatkan koreksi dari penguji termasuk saya guna kembali memperbaiki bacaan kami karna sangat penting mengingat apa yang akan kita baca adalah mukjizat terbesar Rasulullah SAW dan pedoman hidup bagi seluruh umat manusia. Alhamdulillah saya terpilih untuk mewakili STT Terpadu Nurul Fikri dengan kategori tartilil Qur’an. Karena masih memiliki waktu sampai hari berlangsungnya MTQ MN di Universitas Brawijaya dan Universitas Negeri Malang maka kami pun melakukan pelatihan baik itu yang sudah disediakan oleh kampus maupun latihan individu masing-masing, baik itu dengan guru kami maupun tilawah setiap harinya agar lidah kami selalu terbiasa dengan lantunan ayat suci Al-Qur’an.
Telah tiba waktu untuk pergi ke kota Malang dimana MTQMN digelar, saya pun berangkat dengan ojek online menuju st. Tanjung barat karena telah ditunggu oleh mahasiswa/i STT NF yang menjadi peserta MTQ MN juga untuk berangkat ke st. Pasar senen karena keberangkatan kami dari sana. Setiba di st. Pasar senen kami pun menunggu kereta kami yang akan berangkat pukul 17.30 dan akan tiba di Malang pukul 10.00. Waktu perjalanan selama 16 jam tidak terasa di kereta karena diisi dengan canda tawa dari kami untuk menenangkan hati agar tidak gugup saat sampai di Kota Malang. Sesampainya di Malang kami pun disambut oleh LO (Liason Officer) kami yang bernama mas Musleh Kadafy dengan ramah untuk mengantarkan kami ke asrama kami di UIN Maliki (Maulana Malik Ibrahim). Setelah sampai di asrama kami pun bersiap untuk sholat jum’at, setelah itu kami di briefing oleh official kami yaitu bang yudo dan kak nina tentang situasi perlombaan besoknya. Malam hari tiba kami pun pergi ke Universitas Brawijaya untuk menyaksikan pembukaan MTQ MN XV 2017, sebuah pembukaan yang spektakuler yang masih terbayang di ingatan saya. Bagaimana pesembahannya, pencahayaannya, dan penampilan qori yang menggetarkan hati kami semua.

Hari telah berganti, setelah selesai sholat shubuh berjama’ah di Masjid UIN Maliki kami pun bersiap untuk menuju Universitas Brawijaya (UB) dan Universitas Negeri Malang (UM) menggunakan bus yang telah disediakan oleh panitia MTQMN untuk mengikuti babak penyisihan. Karena kategori yang berbeda kami pun berpisah untuk menuju tempat seleksi masing-masing. Untuk Kategori Tartilil Qur’an yang mewakili STTNF ada 2 mahasiswa yaitu saya dan Afifah Sausan yang juga menjadi teman sekelas saya di Kampus STTNF, kami pun didampingi oleh kak nina selaku official kami. Setiba di tempat penyisihan kami pun diminta untuk registrasi ulang dan mengambil nomor urut tampil kami dan dipersilakan duduk untuk menunggu giliran pengambilan maqro bacaan kami.

Sambil menunggu dimulainya babak penyisihan saya pun mencoba menenangkan hati dengan membaca Al-Qur’an. Pada pukul 08.00 babak penyisihan pun dimulai oleh MC di kategori tartilil qur’an, setelah pembukaan selesai MC pun memanggil peserta pertama untuk mengambil maqro bacaan dan bersiap untuk naik ke panggung. Waktu terus berlalu dan peserta mulai bergantian melantunkan ayat suci Al-Qur’an sesuai maqro bacaan yang mereka ambil. Sesaat sebelum saya maju untuk mengambil maqro ternyata ada break selama 15 menit, saya menggunakan waktu tersebut untuk berwudhu lagi untuk menenangkan hati saya. Pada pukul 10.10 penyisihan pun dimulai kembali dan nama saya pun dipanggil untuk mengambil maqro bacaan, dan saya pun mendapat maqro QS. Al-Hajj ayat 1-5.

Saya pun dipersilakan untuk naik ke panggung dan masuk kedalam ruangan kaca yang kedap suara. Gugup yang saya rasakan sesaat sebelum tampil membuat saya kurang percaya diri saat akan memulai bacaan. Lampu hijau telah menyala pertanda diizinkannya memulai bacaan. Saya pun mulai membaca dengan hati-hati agar tidak ada kesalahan dalam bacaan saya, pada ayat terakhir saya melakukan kesalahan kecil yang menyebabkan pengurangan terhadap nilai saya. Lampu merah telah menyala menandakan akhir dari bacaan, saya pun mengakhiri bacaan saya. Alhamdulillah tidak ada kesalahan fatal terhadap bacaan saya, walaupun sempat terpeleset di ayat terakhir dikarenakan kurang menarik nafas saat akan memluai bacaan kembali, tapi saya tidak menyesal karena telah berani tampil dan sudah memberikan yang terbaik untuk STT NF. Saat selesai di kategori tartilil kami pun melihat seleksi kategori yang lain dan disana kami bertemu dengan LO kami lainnya yaitu mba Ulyl. Setelah kami semua selesai melaksanakan seleksi di hari itu kami pun kembali ke asrama masing-masing.

Hari pun terus berganti, Tak lupa kami pun diberikan penawaran untuk sekadar jalan-jalan dibeberapa objek wisata di Kota Malang oleh panitia MTQMN, kami pun setuju untuk memilih Pantai Balekambang dan Pantai Goa Cina. Tiba hari dimana kami akan pergi jalan-jalan di Kota ngalam (Malang) begitu sebutan orang sana, mereka sering membalik perkataan mereka seperti “arek malang” menjadi “kera ngalam”, “singo edan” menjadi “ongis nade” dan banyak lagi. Kami diminta untuk berkumpul di depan masjid UIN Maliki untuk menunggu bus keberangkatan menuju destinasi tujuan kami bersama dengan peserta MTQMN lainnya oleh panitia Seharian penuh kami bermain pasir dan air di kedua pantai tersebut, tidak terasa jam sudah menunjukkan pukul 16.00 yang menandakan kami harus kembali ke bus kami untuk perjalanan pulang menuju asrama kami di UIN Maliki.

Hari kembali berganti, jam menunjukkan pukul 04.30 kami pun disambut dengan lantunan adzan shubuh dan udara dingin kota Malang dan kami pun bersiap untuk sholat shubuh. Setelah sarapan pagi kami pun kembali menuju Universitas Brawijaya untuk melihat pengumuman seleksi dan berjalan-jalan di bazaar MTQMN untuk membeli buah tangan. Kabar hasil pengumuman kami sudah kami terima dan Alhamdulillah Allah belum mengizinkan kami untuk melaju ke babak final, mungkin ini adalah teguran dari Allah agar kami terus belajar dan berjuang lagi dikemudian harinya. Kekalahan tersebut tidak membuat kami berkecil hati, karena seperti kata official kami “ngga usah sedih dan nyesel mungkin Allah belum mengizinkan kalian masuk ke babak final tapi Allah sudah mengizinkan kalian untuk mendapatkan pengalaman berharga ini yang ngga bisa di dapetin sama mahasiswa Nurul Fikri lainnya, tetep semangat belajar Al-Qur’an nya semoga MTQMN selanjutnya Allah mengizinkan kalian lagi untuk kembali ikut serta dan bisa masuk final”. Pengalaman yang sudah kami dapat dari Malang tersebut In Syaa Allah menjadi modal kami dan mahasiswa Nurul Fikri lainnya untuk MTQMN XVI 2019.

Tidak terasa sepekan sudah kami di Kota Malang, kami pun harus kembali ke Kota Depok untuk kembali melakukan aktivitas kami disana. Saat akan pulang kami pun berpamitan dengan LO kami disana, sayangnya kami hanya dapat bertemu dengan mas musleh karena mba ulyl masih ada urusan di Universitas Brawijaya. Sebelum naik ke mobil yang akan mengantarkan kami ke st. Malang Kota baru saya dan nendi sempat berfoto dengan mas musleh untuk mengabadikan momen terakhir kami di MTQMN XV 2017 tersebut.

Demikian sedikit kisah saya saat berada di Malang dalam Kompetisi Musabaqoh Tilawatil Qur’an Mahasiswa Nasional ke-15 Tahun 2017 (MTQ MN XV 2017), Semoga kisah singkat tersebut dapat menginspirasi siapa saja yang membacanya.

Published in Kisah dan Curhat